Pages

Kamis, 21 Agustus 2014

Surat Kontrak Kerja: Mengikat dan Mendetail

Saat memulai berwirausaha, seorang pengusaha (atau beserta mitra) harus menegaskan visi dan misi perusahaan sehingga proseskerja pun lancar dan usaha berkembang pesat. Untuk itu, ia (dan pemegang saham lainnya) harus mencari dengan cermat dan memperkerjakan karyawan yang kapabilitas dan karakteristiknya sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Jangan sampai suatu saat ada kejadian tidak mengenakkan hanya karena keliru memilah dan memilih. Namun demikian, jangan lupakan kesejahteraan karyawan. Hal ini harus diuraikan dengan jelas dalam surat kontrak kerja sejak awal. Upayakan untuk tidak memojokkan calon karyawan dengan isi perjanjian untuk kontrak dalam surat yang kacau balau.

Perusahaan sendiri tentunya tidak ingin merugi hanya karena beberapa gelintir karyawan yang tidak mampu (tidak becus) menjalankan tugas dan kerja dengan baik. Sebaliknya, pekerja tentu saja ingin mendapatkan jaminan dan kepastian sesuai kontrakyang tertera dalam surat bahwa kedudukannya bukan untuk dimanfaatkan dan tenaganya tidak sekadar untuk diperas bagaikan sapi perah (cash cow) tanpa timbal balik (gaji dan tunjangan, serta hak lain-lain sedetail-detailnya tercantum pada surat kontrak kerja) yang sepadan sesuai dengan kerja kerasnya dan lantas menyesal karena keliru masuk ke perusahaan yang ternyata tidak menghargai usaha keras karyawannya.

Surat yang Bersifat Mengikat
Perjanjian kontrak hitam di atas putih (bentuk tulisan dalam surat) yang dibuat oleh perusahaan untuk calon pegawainya ini bersifat mengikat secara hukum bagi kedua belah pihak sehingga pegawai dan perusahaan sama-sama terlindungi. Kesepakatan prakerja yang ditandatangani perusahaan dan calon karyawan sangat diperlukan agar salah satu pihak tidak merasa dirugikan (juga bisa karena merasa ditelantarkan atau diombang-ambingkan akibat ketidakjelasan deskripsi tugas dan wewenang atau beban) di masa mendatang. Perjanjian (surat kontrak kerja) yang dibuat sebelum masa kerja berlangsung dapat memberikan penegasan mengenai poin-poin (daftar) tugas dan wewenang kerja, hak, serta kewajiban calon pekerja serta kewajiban dan tanggung jawab perusahaan.

Surat yang Jelas dan Mendetail
Semua poin dalam harus surat kontrak kerja dibeberkan dengan seterang-terangnya dan secara terperinci tanpa satu butir pun terlewat. Bila ada pernyataan dalam kontrak dengan diksi terlalu berbelit maupun mengesankan makna ganda atau rancu, sebaiknya calon pegawai menanyakannya dengan jelas sejak awal agar tidak menimbulkan masalah dan terjebak, terutama akibat keliru penafsiran. Bila perlu, calon pegawai sebaiknya mengonsultasikan isi surat ke praktisi hukum yang pakar dalam hal perjanjian kerja. Dengan perjanjian yang jelas di awal kerja sama, tentu membuat suasana bekerja menjadi nyaman dan niscaya kemajuan perusahaan (bisnis) akan tercapai. Jangan sampai perusahaan hanya memikirkan laba besar namun kesejahteraan karyawan terlunta-lunta. Sebagai pemilik perusahaan (pemilik saham), memprioritaskan kepentingan perusahaan tentu tak terelakkan terutama terkait meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, namun jika mengabaikan karyawan penopang penggerak perusahaan yang berada di garis depan, pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi perusahaan sendiri.